Kamis, 10 Desember 2009

ANTARA ABU BAKAR DAN KAUM MURTAD (catatan pengajian malem minggu)


Oleh : Nurul Amin Mu'thi

Allah SWT berfirman dalam Q. S. Al-Maidah ayat 54-56:

"Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui (54). Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah) (55). Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang (56)".

 Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah masih hidup. Beliau merasa khawatir bila sepeninggalnya nanti, banyak kaum muslimin yang akan murtad atau keluar dari agama Islam. Akan tetapi, Allah mengatakan bahwa Rasulullah tidak usah pesimis. Allah akan mengganti suatu kaum yang lebih baik dari kaum yang telah murtad itu. Contohnya, jika di Indonesia banyak pengikut agama Islam yang keluar dari Islam dan mengikuti aliran-aliran yang tidak jelas, insya Allah, di negara-negara lainnya terdapat umat yang sangat setia kepada Islam bahkan semakin bertambah jumlah dan kecintaan mereka kepada agama dan ajaran Islam.

"Ada 11 golongan kaum murtad; 3 golongan muncul pada masa Rasulullah, 7 golongan muncul pada masa Abu Bakar, dan 1 golongan muncul pada zaman Umar.
Ketiga golongan kaum murtad yang muncul pada masa Rasulullah adalah Banu Mudlij (?), Banu Hanifah (?), dan Banu Asad."  Banu Mudlij dipimpin oleh Zulhimar Al-Aswad, seorang dukun yang mengaku sebagai nabi. Di antaranya ajarannya adalah menjadikan himar sebagai dewa. Bahkan, air kencing himar dijadikannya sebagai minyak wangi. Bani Mudlij kemudian diperangi oleh Muaz bin Jabal atas perintah Rasulullah. Zulhimar Al-Aswad berhasil dibunuh oleh Fairuz Al-Dailami. Banu Hanifah dipimpin oleh Musailamah Al-Kazzab, orang yang juga mengaku sebagai nabi. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk memeranginya. Turut bersama dalam pasukan Khalid adalah Wahsyi, orang yang semasa kafirnya telah membunuh paman Rasulullah, Hamzah. Wahsyi-lah yang kemudian berhasil membunuh Musailamah Al-Kazzab. Banu Asad dipimpin oleh Tulaihah bin Khuwailid, orang yang juga mengaku sebagai nabi. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar kembali mengutus Khalid bin Walid. Tulaihah pun melarikan diri ke Syam. Namun, pada masa Umar, Tulaihah masuk Islam dan ia menjadi seorang muslim yang sangat kuat dengan keislamannya.

Ketujuh golongan kaum murtad yang muncul pada masa Abu Bakar menjabat khalifah adalah Banu Uyainah, Ghatafan bin Salamah Al-Qusyairi, Banu Sulaim, Banu Yarmuk, Banu Baus Tamin (seorang wanita yang pernah menjadi istri Musailamah), Kaum Al-As-as, dan Banu Bakar bin Wail (?).

Adapun satu kelompok pada masa Umar adalah Jablah bin Al-Airun (?). Jablah adalah seorang pemarah.
Awalnya, ketika ia sedang tawaf, tanpa sengaja selendangnya terinjak. Jablak marah dan memukuli orang itu. Orang itu pun mengadu kepada Khalifah Umar. Umar memutuskan untuk menerapkan hukum qisas. Jablah menolak dan bersedia membayar berapa pun untuk mendapatkan maaf dari orang yang dipukulnya. Orang yang dipukul Jablah lebih menyetujui qisas dan menolak tawaran Jablah. Umar pun memberikan waktu kepada orang itu dan Jablah untuk berpikir dan berunding. Namun, Jablah kemudian kabur dan melarikan diri ke Rum. Tetapi kemudian ia kembali dan memeluk agama Islam secara sempurna dan kuat keimanannya.

Abu Bakar, semasa menjabat sebagai khalifah, mempunyai andil yang sangat besar dalam menumpas kaum murtad. Pada masanya, ia disibukkan dengan urusan dalam negeri seperti menumpas kaum murtad dan kaum yang enggan membayar zakat. Oleh karena itu, ia tidak sempat melakukan ekspansi seperti yang dilakukan Umar.


Memang, setiap pemimpin akan menghadapi masa dan tantangan yang berbeda. Dalam konteks Indonesia, Soerkarno sebagai presiden pertama, sibuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam negeri. Sebagai presiden berikutnya, Soeharto mulai dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik. Maka seharusnya, pada masa SBY sekarang ini, kesejahteraan rakyat Indonesia dapat lebih ditingkatkan.


Abu Bakar adalah pribadi yang lembut, tetapi keras jika sudah berkaitan dengan ajaran agama. “Siapa pun yang memisahkan salat dengan zakat akan saya bunuh! ucapnya suatu kali.


Menurut Imam Asysyaukani, pengarang Tafsir (Annawawi) ini, Abu Bakar memiliki kelebihan daripada sahabat-sahabat lainnya, termasuk Ali. Imam Asysyaukani yang berteologi Syiah Zaidiyah dan bermazhab fikih Syafii ini mengatakan bahwa keimanan Abu Bakar lebih sempurna dan jasanya lebih besar daripada sahabat lainnya. Pendapat ini berseberangan dengan pendapat Kaum Syiah yang mengatakan bahwa Abu Bakar adalah pengkhianat yang telah merebut tahta Ali pascawafatnya Rasulullah. Menurutnya Abu Bakar telah berjuang membela Islam saat Islam mulai muncul lalu berkembang; saat kondisi kaum muslim masih sangat lemah. Sedangkan sahabat lainnya beriman dan berjuang di saat Islam sudah mulai berkembang.

Terlepas dari siapakah sahabat yang paling mulia, kita jangan menjelek-jelekkan sahabat Rasulullah dan melebihkan yang satu daripada yang lain. Jangan kita mudah terpancing oleh isyu-isyu menyesatkan yang dapat mengadu domba kita sebagai sesama kaum muslim.


Sekarang ini, orang-orang sedang dihebohkan oleh prediksi akan terjadinya hari kiamat pada tahun 2012. Masyarakat pun ketakutan. Kita sebagai orang Islam tidak usah takut. Hari kiamat itu urusan Allah. Kalau Allah mau mendatangkannya sekarang pun bisa saja, tidak perlu menunggu tahun 2012. Urusan mati mah sama saja, mau mati saat kiamat, saat gempa, saat tabrakan, atau saat sakit di pembaringan. Yang terpenting adalah kita memikirkan apakah bekal kita untuk menghadap Allah nanti sudah banyak atau belum. Ayo, kita perbanyak ibadah kepada Allah. Biarlah kita mati kapan saja. Biarlah kiamat datang kapan saja. Yang terpenting, mari kita persiapkan bekal kita untuk menghadap Allah di akhirat nanti.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails